Permasalahan limbah plastik, khususnya limbah botol air kemasan, terus menjadi sorotan utama di berbagai wilayah, termasuk Kota Makassar. Menurut data dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Makassar, jumlah produksi sampah yang dihasilkan di tahun 2022 mencapai 905 Ton per hari dan pada tahun 2024 di prediksi akan meningkat tajam menjadi lebih dari 4,1 juta ton. Hal ini mendorong munculnya kebutuhan mendesak akan solusi inovatif yang mampu menekan produksi limbah plastik tanpa mengorbankan kebutuhan dasar masyarakat.
Tim Telaga dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Muslim Indonesia (UMI) berhasil meluncurkan sebuah proyek inovatif yang berfokus pada penyediaan stasiun isi ulang air minum gratis bagi masyarakat. Tim ini terdiri dari Muhammad Rafly Idil, Arnawati, Fauzy Fathrurahman, Muh Ilyas, dan Muh Naufal Firjatullah. Tim ini menghadirkan inovasi berupa stasiun isi ulang air minum gratis berteknologi modern. Stasiun air minum ini dilengkapi fitur Video Tron dan dirancang untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dengan mendorong masyarakat membawa tumbler pribadi. Proyek ini ditujukan untuk mendukung gaya hidup ramah lingkungan sekaligus memenuhi kebutuhan masyarakat di era digital.
Stasiun air minum ini dirancang dengan kapasitas besar, mampu melayani 300–400 botol per hari (300–500 ml per botol), dan menyediakan air sejuk, memberikan kenyamanan bagi pengguna. Terinspirasi dari water fountain di Italia, proyek ini mengintegrasikan teknologi Internet of Things (IoT) untuk memantau ketersediaan air secara otomatis dan memberikan notifikasi kepada pengelola saat pengisian ulang diperlukan. Teknologi ini menjamin layanan tetap berkelanjutan dan efisien.
Fitur Video Tron menambah nilai pada stasiun ini dengan menyediakan media informasi dan komunikasi digital. Lokasi strategis seperti kampus, pusat perbelanjaan, taman kota, dan kawasan wisata di Makassar, termasuk Central Point of Indonesia (CPI) dan Fort Rotterdam, dipilih untuk memaksimalkan manfaat bagi masyarakat.
Proyek ini telah mendapat apresiasi dalam program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), diapresiasi sebagai langkah strategis dalam menyediakan akses air bersih dan mengurangi dampak negatif plastik sekali pakai. Namun, tim juga menerima masukan untuk memperbaiki desain casing dan menyelesaikan proses legalisasi operasional.
Tim Telaga berharap inovasi ini menjadi solusi jangka panjang untuk mengurangi limbah plastik sekaligus menyediakan akses air minum bersih. Dengan pengelolaan yang tepat, proyek ini berpotensi menjadi model yang dapat diterapkan secara luas untuk keberlanjutan lingkungan. Semangat ini diharapkan terus berkembang, memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan generasi mendatang.